Jumat, 11 Maret 2011

Resep baru mengolah ikan Mujaer dr someone,,^^

Bahan :
1. Ikan Mujaer (gurame, nila atau ikan apapun boleh)
2. Garam, Merica
3. Bawang
4. Jahe
5. Kunyit
6. Jeruk lemon
7. Tepung beras + tepung terigu / tepung roti

Cara membuat :
1. Cuci ikan sampai bersih => diamkan
2. Membuat bumbu
a. Ulek garam, bawang putih, jahe, kunyit
b. Setelah bumbunya halus tambahkan jeruk lemon
3. Oleskan bumbu ke ikan => tunggu sampe meresap bumbunya
4. Membuat tepung ikan
a. Campurannya tepunbg beras + tepung terigu / tepung roti (biar kremes2) + Merica + Garam
5. Lumerin ikan yang telah dibumbui kedalam tepung terigu
6. Goreng ikan dengan minyak yang sudah panas => Tiriskan
7. Membuat sausnya
a. bawang putih, bawang bombay, tomat, saus, wortel iris kecil (sesuai selera), merica, garam, gula, cabe rawit (sesuai selera), 
tepung beras ( ya klo da mending tepung maizena)
b.Tumis bawang bombay, diikuti bawang putih, tomat, wortel => tunggu sampai matang dan wangi
c. Masukan saus 
d. Tambah air secukupnya
e.Tambahkan garam, merica, ma gula. klo suka manis tambah kecap
f. Kentalkan sausnya pke tepng beras yg dicairin
8. Siram sausnya ke Ikan

hahahaha tara,,,, this is it......!!!!

Minggu, 06 Maret 2011

Kutipan yang berguguran di Jalan Dakwah

Pada perang Tabuk, ada beberapa sahabat yang tidak berangkat berperang. Salah satu di
antara mereka adalah Ka’ab bin Malik. Marilah kita dengarkan cerita Ka’ab yang menunjukkan
kejujuran imannya, usai turunnya pengampunan Allah atas dosanya.
“Aku sama sekali tidak pernah absent mengikuti semua peperangan bersama Rasululah saw,
kecuali dalam perang Tabuk. Perihal ketidakikutsertaanku dalam perang Tabuk itu adalah
karena kelalaian diriku terhadap perhiasan dunia, ketika itu keadaan ekonomiku jauh lebih baik
daripada hari-hari sebelumnya. Demi Allah, aku tidak pernah memiliki barang dagangan lebih
dari dua muatan onta, akan tetapi pada waktu peperangan itu aku memikinya.
Sungguh, tidak pernah Rasullah saw. merencanakan suatu peperangan melainkan beliau
merahasiakan hal itu, kecuali pada perang Tabuk ini. Peperangan ini, Rasulullah saw. lakukan
dalam kondisi panas terik matahari gurun yang sangat menyengat, menempuh perjalanan nan
teramat jauh, serta menghadapi lawan yang benar-benar besar dan tangguh. Jadi, rencananya
jelas sekali bagi kaum muslimin untuk mempersiapkan diri masing-masing menuju suatu
perjalanan dan peperangan yang jelas pula.
Rasulullah saw. mempersiapkan pasukan yang akan berangkat. Aku pun mempersiapkan diri
untuk ikut serta, tiba-tiba timbul pikiran ingin membatalkannya, lalu aku berkata dalam hati, “Aku
bisa melakukannya kalau aku mau!” Akhirnya, aku terbawa oleh pikiranku yang ragu-ragu,
hingga para pasukan kaum muslimin mulai berangkat. Pada saat pasukan kaum muslimin mulai
meninggalkan Madinah, maka timbul pikiranku untuk mengejar mereka, toh mereka belum jauh.
Namun, aku tidak melakukannya, kemalasan menghampiri dan bahkan menguasai diriku.
Tampaknya aku ditakdirkan untuk tidak ikut, Akan tetapi sungguh aku merasakan penderitaan
batin sejak Rasulullah saw. meninggalkan Madinah. Bila aku keluar rumah, maka di jalan-jalan
aku merasakan keterkucilan diri sebab aku tidak melihat orang kecuali orang-orang yang
diragukan keislamannya. Merekalah orang-orang yang sudah mendapatkan rukhshah atau ijin
Allah Ta’ala untuk uzur atau kalau tidak demikian maka mereka adalah orang-orang munafik.
Padahal, aku merasakan bahwa diriku tidak termasuk keduanya.
Konon, Rasulullah saw. tidak menyebut-nyebut namaku sampai ke Tabuk. Setibanya di sana,
ketika beiau sedang duduk-duduk bersama sahabatnya, beliau bertanya, “Apa yang dilakukan
Ka’ab bin Malik?”
Seorang dari Bani Salamah menjawab, “Ya Rasulullah, ia ujub pada keadaan dan dirinya!”Mu’a
z bin Jabal menyangkal, “Buruk benar ucapanmu itu! Demi Allah, ya Rasulullah, aku tidak
pernah mengerti melainkan kebaikannya saja!”Rasulullahsaw. hanya terdiam saja.
Beberapa waktu setelah berlalu, aku mendengar Rasulllah saw. kembali dari kancah jihad
Tabuk. Ada dalam pikiranku berbagai desakan dan dorongan untuk membawa alasan palsu ke
hadapan Rasulullah saw., bagaimana caranya supaya tidak terkena marahnya? Aku minta
pandapat dari beberapa orang keluargaku yang terkenal berpikiran baik. Akan tetapi, ketika aku
mendengar Nabi saw., segera tiba di Madinah, lenyaplah semua pikiran jahat itu. Aku merasa
yakin bahwa aku tidak akan pernah menyelamatkan diri dengan kebatilan itu sama sekali.
Maka, aku bertekad bulat akan menemui Rasulullah saw. dan mengatakan dengan sebenarnya.


Pagi-pagi, Rasulullah saw. memasuki kota Madinah. Sudah menjadi kebiasaan, kalau beliau
kembali dari suatu perjalanan, pertama masuk ke masjid dan shalat dua rakaat. Demikian pula
usai dari Tabuk, selesai shalat beliau kemudian duduk melayani tamu-tamunya. Lantas,
berdatanganlah orang-orang yang tidak ikut perang Tabuk dengan membawa alasan
masing-masing diselingi sumpah palsu untuk menguatkan alasan mereka. Jumlah mereka
kira-kira delapan puluhan orang. Rasulullah saw. menerima alasan lahir mereka dan mereka
pun memperbaharui baiat setia mereka. Beliau memohonkan ampunan bagi mereka dan
menyerahkan soal batinnya kepada Allah. Tibalah giliranku, aku datang mengucapkan salam
kepada beliau. Beliau membalas dengan senyuman pula, namun jelas terlihat bahwa senyuman
beliau adalah senyuman yang memendam rasa marah. Beliau kemudian berkata, “Kemarilah!”
Aku pun menghampirinya, lalu duduk di hadapannya. Beliau tiba-tiba bertanya, “Wahai Ka’ab,
mengapa dirimu tidak ikut? Bukankah kau telah menyatakan baiat kesetianmu?”
Aku menjawab, “Ya Rasulullah! Demi Allah. Kalau duduk di hadapan penduduk bumi yang lain,
tentulah aku akan berhasil keluar dari amarah mereka dengan berbagai alasan dan dalil
lainnya. Namun, demi Allah. Aku sadar kalau aku berbicara bohong kepadamu dan engkau pun
menerima alasan kebohonganku, aku khawatir Allah akan membenciku. Kalau kini aku bicara
jujur, kemudian karena itu engkau marah kepadaku, sesungguhnya aku berharap Allah akan
mengampuni kealpaanku. Ya Rasululah saw., demi Allah, aku tidak punya uzur. Demi Allah,
keadaan ekonomiku tidak pernah stabil dibanding tatkala aku mengikutimu itu!”
Rasulullah berkata, “Kalau begitu, tidak salah lagi. Kini, pergilah kau sehingga Allah
menurunkan keputusan-Nya kepadamu!”
Aku pun pergi diikuti oleh orang-orang Bani Salamah. Mereka berkata kepada, “Demi Allah,
Kami belum pernah melihatmu melakukan dosa sebelum ini. Kau tampaknya tidak mampu
membuat-buat alasan seperti yang lain, padahal dosamu itu sudah terhapus oleh permohonan
ampun Rasulullah!”
Mereka terus saja menyalahkan tindakanku itu hingga ingin rasanya aku kembali menghadap
Rasullah saw. untuk membawa alasan palsu, sebagaimana orang lain melakukannya.
Aku bertanya kapada mereka, “Apakah ada orang yang senasib denganku?”
Mereka menjawab, “Ya! Ada dua orang yang jawabannya sama dengan apa yang kau perbuat.
Sekarang mereka berdua juga mendapat keputusan yang sama dari Rasulullah sebagaimana
keadaanmu sekarang!”
Aku bertanya lagi, “Siapakah mereka itu?”
Mereka menjawab, “Murarah bin Rabi’ah Al-Amiri dan Hilal bin Umayah Al-Waqifi.”
Mereka menyebutkan dua nama orang shalih yang pernah ikut dalam perang Badr dan yang
patut diteladani. Begitu mereka menyebutkan dua nama orang itu, aku bergegas pergi menemui
mereka.

Tak lama setelah itu, aku mendengar Rasululah melarang kaum muslimin berbicara dengan
kami bertiga, di antara delapan puluhan orang yang tidak ikut dalam perang tersebut.
Kami mengucilkan diri dari masyarakat umum. Sikap mereka sudah lain kapada kami sehingga
rasanya aku hidup di suatu negeri yang lain dari negeri yang aku kenal sebelumnya. Kedua
rekanku itu mendekam di rumah masing-masing menangisi nasib dirinya, tetapi aku yang paling
kuat dan tabah di antara mereka. Aku keluar untuk shalat jamaah dan kaluar masuk pasar
meski tidak seorang pun yang mau berbicara denganku atau menanggapi bicaraku. Aku juga
datang ke majilis Rasullah saw. sesudah beliau shalat. Aku mengucapkan salam kepada beliau,
sembari hati kecilku bertanya-tanya memperhatikan bibir beliau, “Apakah beliau menggerakkan
bibirnya menjawab salamku atau tidak?”
Aku juga shalat dekat sekali dengan beliau. Aku mencuri pandang melihat pandangan beliau.
Kalau aku bangkit mau shalat, ia melihat kepadaku. Namun, apabila aku melihat kepadanya, ia
palingkan mukanya cepat-cepat. Sikap dingin masyarakat kepadaku terasa lama sekali.Pada
suatu hari, aku mengetuk pintu pagar Abu Qaradah, saudara misanku dan ia adalah saudara
yang paling aku cintai. Aku mengucapkan salam kepadanya, tetapi demi Allah, ia tidak
menjawab salamku.
Aku menegurya, “Abu Qaradah! Aku mohon dengan nama Allah, apakah kau tau bahwa aku
mencintai Allah dan Rasul-Nya?”
Ia diam. Aku mengulangi permohonanku itu, namun ia tetap terdiam. Aku mengulangi
permohonanku itu, namun ia tetap terdiam. Aku mengulanginya sekali lagi, tapi ia hanya
menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu!”
Air mataku tidak tertahankan lagi. Kemudian aku kembali dengan penuh rasa kecewa.
Pada suatu hari, aku berjalan-jalan ke pasar kota Madinah. Tiba-tiba datanglah orang awam
dari negeri Syam. Orang itu biasanya mengantarkan dagangan pangan ke kota Madinah. Ia
bertanya, “Siapakah yang mau menolongku menemui Ka’ab bin Malik?”
Orang-orang di pasar itu menunjuk kepdaku, lalu orang itu datang kepadaku dan menyerahkan
sepucuk surat kepadaku dan menyerahkan sepucuk surat dari raja Ghassan. Setelah kubuka,
isinya sebagai berikut, “… Selain dari itu, bahwa sahabatmu sudah bersikap dingin terhadapmu.
Allah tidak menjadikan kau hidup terhina dan sirna. Maka, ikutlah dengan kami di Ghassan,
kami akan menghiburmu!”
Hatiku berkata ketika membaca surat itu, “Ini juga salah satu ujian!” Lalu aku memasukkan
surat itu ke dalam tungku dan membakarnya.
Pada hari yang ke-40 dari pengasinganku di kampung halaman sendiri, ketika aku
menanti-nantikan turunnya wahyu tiba-tiba datanglah kepadaku seorang pesuruh Rasulullah
saw. menyampaikan pesannya, “Rasulullah memerintahkan kepadamu supaya kamu menjauhi
istrimu!”
Aku semakin sedih, namun aku juga semakin pasrah kepada Allah, hingga terlontar pertanyaanku kepadanya, “Apakah aku harus menceraikannya atau apa yang akan
kulakukan?”
Ia menjelaskan, “Tidak. Akan tetapi, kamu harus menjauhkan dirimu darinya dan
menjauhkannya dari dirimu!”
Kiranya Rasulullah juga sudah mengirimkan pesannya kepada dua sahabatku yang bernasib
sama. Aku langsung memerintahkan kepada istriku, “Pergilah kau kepada keluargamu sampai
Allah memutuskan hukumnya kepada kita!”
Istri Hilal bin Umaiyah datang menghadap Rasulullah saw. lalu ia bertanya, “Ya Rasulullah,
sebenarnya Hilal bin Umaiyah seorang yang sudah sangat tua, lagi pula ia tidak memiliki
seorang pembantu. Apakah ada keberatan kalau aku melayaninya di rumah?”
Rasulullah saw. menjawab, “Tidak! Akan tetapi ia tidak boleh mendekatimu!”
Istri Hilal menjelaskan, “Ya Rasulullah! Ia sudah tidak bersemangat pada yang itu lagi. Demi
Allah, yang dilakukannya hanya menangisi dosanya sejak saat itu hingga kini!”
Ada seorang familiku yang juga mengusulkan, “Coba minta izin kepada Rasulullah supaya
istrimu melayai dirimu seperti halnya istri Hilal bin Umayah!”
Aku menjawab tegas, “Tidak Aku tidak akan minta izin kepada Rasulullah saw. tentang istriku.
Apa katanya kelak, sedangkan aku masih muda?”
Akhirnya, hari-hari selanjutnya aku hidup seorang diri di rumah. Lengkaplah bilangan malam
sejak orang-orang dicegah berbicara denganku menjadi 50 hari 50 malam. Pada waktu sedang
shalat subuh di suatu pagi dari malam yang ke-50 ketika aku sedang duduk berdzkir minta
ampun dan mohon dilepaskan dari kesempitan hidup dalam alam yang luas ini, tiba-tiba aku
mendengar teriakan orang-orang memanggil namaku. ‘Wahai Ka’ab bin Malik, bergembiralah!
Wahai Ka’ab bin Malik, bergembiralah!”
Mendengar berita itu aku langsung sujud memanjatkan syukur kepada Allah. Aku yakin
pembebasan hukuman telah dikeluarkan. Aku yakin, Allah telah menurunkan ampunan-Nya.
Rasulullah menyampaikan berita itu kepada shahabat-shahabatnya seusai shalat shubuh
bahwa Allah telah mengampuni aku dan dua orang shahabatku. Berlomba-lombalah orang
mendatangi kami, hendak menceritakan berita germbira itu. Ada yang datang dengan berkuda,
ada pula yang datang dengan berlari dari jauh mendahului yang berkuda. Sesudah keduanya
sampai di hadapanku, aku berikan kepada dua orang itu kedua pakaian yang aku miliki. Demi
Allah, saat itu aku tidak memiliki pakaian kecuali yang dua itu.
Aku mencari pinjaman pakaian untuk menghadap Rasullah. Ternyata aku telah disambut
banyak orang dan dengan serta merta mereka mengucapkan selamat kepadaku. Demi Allah,
tidak seorang pun dari muhajirin yang berdiri dan memberi ucapan selamat selain Thal’ah.
Sikap Thalhah itu tak mungkin aku lupakan. Sesudah aku mengucapkan salam kepada Rasulullah, mukanya tampak cerah dan gembira, katanya kemudian, “Bergembiralah kau atas
hari ini! Inilah hari yang paling baik bagimu sejak kau dilahirkan oleh ibumu!”
“Apakah dari Allah ataukah dari engkau ya Rasulullah?” tanyaku sabar.
“Bukan dariku! Pengampunan itu datangnya dari Allah!” jawab Rasul saw.
Demi Allah, aku belum pernah merasakan besarnya nikmat Allah kepadaku sesudah Dia
memberi hidayah Islam kepadaku, lebih besar bagi jiwaku daripada sikap jujurku kepada
Rasulullah saw.”
Ka’ab lalu membaca ayat pengampunannya itu dengan penuh haru dan syahdu, sementara air
matanya berderai membasahi kedua pipinya.
“Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi
telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas, dan jiwa mereka pun telah sempit
(pula terasa) oleh mereka, serta telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah
melainkan kepada-Nya saja. Kemudian, Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap
dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang.”
(At-Taubah:118)



Penyakit Paru (PPOK)

Skenario
Laki-laki, pengemudi angkot 65 tahun mengeluh sesak nafas sejak 8 tahun yll dan sesak semakin memberat bila beraktivitas. Keluhan disertai batuk dengan dahak berwarna hijau, badan lemah. iwayat TB (-), Merokok (+) sejak 30 tahun yll
PemFis
Kesadaran : komposmentis
TD : 120/80 mmHg, Nadi 80x/menit, Respirasi 30x/menit, suhu 38 
Kepala : anemia (-), ikterus (-), cyanosis (-)
Thorax : Pulmo : suara vesikuler +/+, Wh +/+, Rh -/- 
             Cor : tak
Abdomen : Hepar tidak teraba, masa d hipokondrium dextra (-), Lien tidak teraba, asites (-)
Ekstremitas : Akral hangat, oedema -/- 
Lab : Hb  14%, Leukosit 12.000, trombosit 258.000 mm 
 Analisis
1. Diagnosis
 PPOK eksaserbasi akut karena :

  • Sesak bertambah saat aktivitas
  • Produksi sputum berwarna kehijauan
  • Ada riwayat merokok sejak 30 thn yll
  • Ada wheezing tapi tidak ada ronkhi
PPOK : penyakit paru yg dapat dicegah dan diobati, ditandai hambatan aliran udara yang reversibel parsial, bersifat progresif, dan berhubungan dengan respon inflamasi paru thd partikel gas beracun/berbahaya, disertai efek ekstraparu yang berkontribusi thd beratnya penyakit

Faktor Resiko
  • Asap rokok : perokok aktif dan pasif
  • Polusi Udara : dalam ruangan (asap rokok, kompor), luar ruangan (h=gas buang kendaraan, debu)
  • Polusi tempat kerja : bahan kimia, zat iritasi, gas beracun
2. Diagnosis Banding




Sabtu, 05 Maret 2011

Penyakit pada faring (Odinofagia=>Tonsilitis)



Skenario :
Laki-laki, 10 tahun, mengeluh sering sakit menelan sejak 1 tahun terakhir. keluhan disertai terasa mengganjal di tenggorokan, tidur mengorok dan sering terbangun pada malam hari => keluhan berulang.
PemFis :
  • Suhu 36o C
  • TD 100/70 mmHg
  • Nadi 80 x/ menit 
  • Respirasi 18 x/menit
  • Tonsil : T4/T4, Kripta melebar +/+ => proses kronis, Detritus -/-
  • Faring : Mukosa tenang, Granule -/-, Post nasal drip -
Analisis :
1. Anantomi faring (batas-batas) 

  • Nasofaring 
a. Anterior : Choane (lubang hidung posterior)
b. Lateral : Musculus constrictor faringeus
c. Posterior : Vertebrae servical
d. Superior : Basis Cranii
e. Inferior : Palatum Molle

  • Orofaring
a. Anterior : Uvulla & pillar anterior (M.palatoglossus)
b. Posterior : Vertebrae Servicalis
c. Inferior : Epiglotis
d. Superior : Palatum Molle
  • Laringofaring

a. Superior : Epiglotis
b. Inferior : cartilago cricoid
  • Cincin Waldeyer => Jaringan limfoid sekitar jalan masuk saluran aerodigestif

a. Tonsila Palatina
b. Tonsila pharyngeal (adenoid)
c. Tonsila Lingualis
d. Lateral faringeal band'
e. Nodul Soliter di dinding faring
2. Anatomi Tonsil
a. Tonsila Palatina

  • Saat lahir 5x3.5 mm, 0.75 gr
  • Saat anak-anak diameter vertikal lebih besar
  • 2/3 dilapisi kapsula faringobasilar dengan jar. ikat longgar
  • Memiliki 10-30 kripta
  • Merupakan jaringan predominan B sel => berperan melawan antigen yg terhirup/termakan yg menginduksi produksi immunoglobulin dan limfokin
  • Peranan dalam imunitas terutama pd usia 4-10 tahun dan mengalami involusi stelah pubertas

b. Tonsila Lingualis

  • Tidak berkapsel
  • Berkembang paling akhir à dewasa
  • Kripta dangkal
  • Detritus

Perbedaan anatomi dan fisiologi Adenoid dan T.palatina
 3. Diagnosis Banding
a. Infeksi : Tonsilitis, faringitis, laryngitis, peritonsilar abses
b. Trauma : duri ikan, post intubasi, menghirup gas panas, minum zat kaustik
c. Neoplasma : Tumor tonsil, tumor basis lidah, tumor parafaring

DIAGNOSIS KERJA : TONSILITIS KRONIS HIPERTROFI  berdasar :

  • gejala sakit menelan dan rasa mengganjal => akibat pembesaran tonsil (hipertrofi)
  • tidak ada riwayat trauma
  • tonsila T4/T4 => tonsilitis hipertrofi
  • kripta melebar => menunjukan proses kronik
  • mukosa tenang (bukan faringitis)
4. Komplikasi
a. Perintonsilar Abses : unilateral, uvula terdorong ke kontralateral, palatum buldging, tonsil terdorong ke      medioinferior (karena pada tonsila palatina terdapat peritonsilar abses) => penyebaran bakteri perkontinuitatum
b. Demam Reumatik : penyebaran bakteri secara hematogen
c. Post streptoccal Glomerulonefritis
5. Pemeriksaan Tambahan dan Penatalaksanaan
 a. Usulan pemeriksaan

  • Kultur dan resistensi apus tenggorokan => mengetahui bakteri penyebab dan terapi antibiotik (tes resistensi)
  • ASTO 

b. Penatalaksanaan umum

  • Menjaga higienitas mulut => Obat kumur yang mengandung desinfektan
  • Jangan minum yang dingin dan makanan mengandung MSG (menjaga asupan makanan)
  • Istirahat yang cukup

c. Penatalaksanaan khusus

  • Tonsilektomi 
6. Indikasi dan Kontraindikasi tindakan operatif
a. Indikasi Absolut

  • OSAS
  • Komplikasi kardiopulmonal akibat sumbatan jalan nafas
  • Suspek keganasan
  • Tonsilitis penyebab kejang demam

b. Indikasi Relatif

  • Tonsilitis akut rekuren : 7x setahun, 4x dalam 2 tahun berturut-turut, 3x dalam 3 tahun berturut-turut
  • Tonsilitis kronis yg gagal terapi antibiotik
  • Tonsilolithiasis
  • Post peritonsilar abses
  • Dysfagia

c. Kontraindikasi

  • Kelainan perdarahan
  • Infeksi Akut
  • Celah Palatum
7. Organisme penyebab infeksi tonsil
a. Aerob

  • Group A Beta Hemolytic Streptococcus (GABHS)
  • Group B, C, F Streptococcus
  • Hemophilus influenza (tipe B dan non tipe)
  • Streptococcus pneumoniae
  • Streptococcus epidermidis
  • Moraxella catarrhalis
  • Staphyllococcus aureus
  • Hemophyllus parainfluenza
  • Neisseria sp.
  • Micobacteria sp.
  • Lactobacillus sp.
  • E. col.i
  • Helicobacter pylori
  • Chlamydia pneumoniae 
b. Anaerob
  • Bacteroides sp.
  • Peptococcus sp.
  • Microaerophillic streptococci
  • Veillonella parvula
  • Bifidobacterium adolescences
  • Eubacterium sp.
  • Lactobacillus sp.
  • Fusobacterium sp.
  • Bacteroides sp.
  • Porphyromonas asaccharolytica
  • Prevotella sp.
c. Virus
  • Epstein-Barr
  • Adenovirus
  • Influenza A, B
  • Herpes simplex
  • Respiratoy syncytial
  • Parainfluenza

d. Dll
  • Mycobacterium (atypical nontuberculosis)
  • Candida albicans
8. Jenis Tonsilitis Membranosa
a. Tonsilitis difteri

  • Gejala : nyeri menelan, demam
  • Tanda : pseudomembranosa putih/keabuan yang sulit dlepaskan dan mudah berdarah

b. Mononukleosus infeksiosa

  • G : demam, nyeri menelan, nyeri pada kelenjar di leher
  • T : lympadenopati, tonsil bengkak dan ditutupi eksudat fibrin, rhinofaringitis, hepatosplenomegali

c. Vincent Angina (trench Mouth)

  • G  : nyeri menelan unilateral, bau mulut, terasa mengganjal ditenggorokan
  • T : tonsil membesar unilateral, bengkak, ulkus irreguler ditutupi mukus keabuan

d. Candidiasis Oral

  • G : sakit menelan (only)
  • T : bercak putih di palatum molle yang bisa mengenai dinding faring posterior, tonsil, mukosa bukal
9. Gejala dan Komplikasi OSAS (Obstructive Sleep Apneu Syndrome)
OSAS : keadaan / sindroma yang ditansai adanya periode apneu / tdk bernafas skitar 10 detik / lebih akibat sumbatan jalan nafas => penderita terbangun => tidur lagi dengan cepat (tdk sadar) => berulang sepanjang malam
Etiologi : septum deviasi, polip hidung, tonsil hipertrofi, 70 % berkaitan dgn kenaikan berat badan
Gejala : mengantuk sepanjang hari
Test : Epwort Sleepiness Scale, Pulse oxymetry, Polysomnography
Komplikasi

  • Anak : gangguan konsentrasi/hiperaktif, gangguan pertumbuhan
  • Dewasa : hipertensi, CHF, kecelakaan lalulintas







Jumat, 04 Maret 2011

KEDOKTERAN ISLAM


“Ilmu kedokteran tak lahir dalam waktu semalam,” ujar Dr Ezzat Abouleish MD dalam tulisannya berjudul Contributions of Islam to Medicine. Studi kedokteran yang berkembang pesat di era modern ini merupakan puncak dari usaha jutaan manusia, baik yang dikenal maupun tidak, sejak ribuan tahun silam.

Saking pentingnya, ilmu kedokteran selalu diwariskan dari generasi ke generasi dan bangsa ke bangsa. Cikal bakal ilmu medis sudah ada sejak dahulu kala. Sejumlah peradaban kuno, seperti Mesir, Yunani, Roma, Persia, India, serta Cina sudah mulai mengembangkan dasar-dasar ilmu kedokteran dengan cara sederhana.

Orang Yunani Kuno mempercayai Asclepius sebagai dewa kesehatan. Pada era ini, di Yunani telah muncul beberapa dokter atau tabib terkemuka. Tokoh Yunani yang banyak berkontribusi mengembangkan ilmu kedokteran adalah Hippocrates atau `Ypocras’ (5-4 SM). Dia adalah tabib Yunani yang menulis dasar-dasar pengobatan.

Selain itu, ada juga nama Rufus of Ephesus (1 M) di Asia Minor. Ia adalah dokter yang berhasil menyusun lebih dari 60 risalat ilmu kedokteran Yunani. Dunia juga mengenal Dioscorides. Dia adalah penulis risalat pokok-pokok kedokteran yang menjadi dasar pembentukan farmasi selama beberapa abad. Dokter asal Yunani lainnya yang paling berpengaruh adalah Galen (2 M).

Ketika era kegelapan mencengkram Barat pada abad pertengahan, perkembangan ilmu kedokteran diambil alih dunia Islam yang tengah berkembang pesat di Timur Tengah. Menurut Ezzat Abouleish, seperti halnya lmu-ilmu yang lain, perkembangan kedokteran Islam melalui tiga periode pasang-surut.

Periode pertama dimulai dengan gerakan penerjemahan literatur kedokteran dari Yunani dan bahasa lainnya ke dalam bahasa Arab yang berlangsung pada abad ke-7 hingga ke-8 Masehi. Pada masa ini, sarjana dari Syiria dan Persia secara gemilang dan jujur menerjemahkan litelatur dari Yunani dan Syiria kedalam bahasa Arab.

Buah pikiran para tabib di era Yunani Kuno secara gencar dialihbahasakan. Adalah Khalifah Al-Ma’mun dari Diansti Abbasiyah yang mendorong para sarjana untuk berlomba-lomba menerjemahkan literatur penting ke dalam bahasa Arab. Khalifah pun menawarkan bayaran yang sangat tinggi, berupa emas, bagi para sarjana yang bersedia untuk menerjemahkan karya-karya kuno.

Proses transfer ilmu kedokteran yang berlangsung pada abad ke-7 dan ke-8 M membuahkan hasil. Pada abad ke-9 M hingga ke-13 M, dunia kedokteran Islam berkembang begitu pesat. Sejumlah RS (RS) besar berdiri. Pada masa kejayaan Islam, RS tak hanya berfungsi sebagai tempat perawatan dan pengobatan para pasien, namun juga menjadi tempat menimba ilmu para dokter baru.

Sekolah kedokteran pertama yang dibangun umat Islam sekolah Jindi Shapur. Khalifah Al-Mansur dari Dinasti Abbasiyah yang mendirikan kota Baghdad mengangkat Judis Ibn Bahtishu sebagai dekan sekolah kedokteran itu. Pendidikan kedokteran yang diajarkan di Jindi Shapur sangat serius dan sistematik. Era kejayaan Islam telah melahirkan sejumlah tokoh kedokteran terkemuka, seperti Al-Razi, Al-Zahrawi, Ibnu-Sina, Ibnu-Rushd, Ibn-Al-Nafis, dan Ibn- Maimon.

Al-Razi (841-926 M) dikenal di Barat dengan nama Razes. Pemilik nama lengkap Abu-Bakr Mohammaed Ibn-Zakaria Al-Razi itu adalah dokter istana Pangerang Abu Saleh Al-Mansur, penguasa Khorosan. Ia lalu pindah ke Baghdad dan menjadi dokter kepala di RS Baghdad dan dokter pribadi khalifah. Salah satu buku kedokteran yang dihasilkannya berjudul ‘Al-Mansuri’ (Liber Al-Mansofis).

Ia menyoroti tiga aspek penting dalam kedokteran, antara lain; kesehatan publik, pengobatan preventif, dan perawatan penyakit khusus. Bukunya yang lain berjudul ‘Al-Murshid’. Dalam buku itu, Al-Razi mengupas tentang pengobatan berbagai penyakit. Buku lainnya adalah ‘Al-Hawi’. Buku yang terdiri dari 22 volume itu menjadi salah satu rujukan sekolah kedokteran di Paris. Dia juga menulis tentang pengobatan cacar air.

Tokoh kedokteran lainnya adalah Al-Zahrawi (930-1013 M) atau dikenal di Barat Abulcasis. Dia adalah ahli bedah terkemuka di Arab. Al-Zahrawi menempuh pendidikan di Universitas Cordoba. Dia menjadi dokter istana pada masa Khalifah Abdel Rahman III. Sebagain besar hidupnya didedikasikan untuk menulis buku-buku kedokteran dan khususnya masalah bedah.

RS terkemuka pertama yang dibangun umat Islam berada di Damaskus pada masa pemerintahan Khalifah Al-Walid dari Dinasti Umayyah pada 706 M. Namun, rumah sakit terpenting yang berada di pusat kekuasaan Dinasti Umayyah itu bernama Al-Nuri. Rumah sakit itu berdiri pada 1156 M, setelah era kepemimpinan Khalifah Nur Al-Din Zinki pada 1156 M.

Pada masa itu, RS Al-Nuri sudah menerapkan rekam medis (medical record). Inilah RS pertama dalam sejarah yang menggunakan rekam medis. Sekolah kedokteran Al-Nuri juga telah meluluskan sederet dokter terkemuka, salah satunya adalah Ibn Al-Nafis - ilmuwan yang menemukan sirkulasi paru-paru. RS ini melayani masyarakat selama tujuh abad, dan bagiannya hingga kini masih ada.

Ilmu kedokteran Islam juga berkembang di Mesir. Pada 872 M, Ahmed Ibn-Tulun membangun RS Al-Fusta di kota Al-Fustat, sekarang Kairo. Pada 1284 M, Khalifah Al-Mansur Qalawun juga membangun RS terkemuka bernama Al-Mansuri. Di Tunisia, pada 830 M, Pangeran Ziyadad Allah I membangun RS Al-Qayrawan di wilayah kota Al-Dimnah. RS ini sudah menerapkan pemisahan antara ruang tunggu pengunjung dan pasien.

Di Marokko, pada 1190 M, Khalifah Al-Mansur Ya’qub IbnuYusuf, membangun RS Marakesh. Itu adalah RS terbesar da terindah karena dihiasi taman yang penuh dengan bunga dan pohon buah-buahan. Ilmu medis juga berkembang pesat di Spanyol. Pada 1366 M, Pangeran Muhammed Ibn-Yusuf Ibn Nasr, membangun RS Granada di kota Granada.
Kontribusi Dokter Muslim 
Bakteriologi Ilmu yang mempelajari kehidupan dan klasifikasi bakteri. Dokter Muslim yang banyak memberi perhatian pada bidang ini adalah Al-Razi serta Ibnu Sina.
Anesthesia Suatu tindakan menghilangkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan dan berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh. Ibnu Sina tokoh yang memulai mengulirkan ide menggunakan anestesi oral. Ia mengakui opium sebagai peredam rasa sakit yang sangat manjur.
Surgery Bedah atau pembedahan adalah adalah spesialisasi dalam kedokteran yang mengobati penyakit atau luka dengan operasi manual dan instrumen. Dokter Islam yang berperan dalam bedah adalah Al-Razi dan Abu al-Qasim Khalaf Ibn Abbas Al-Zahrawi.
Ophthamology Cabang kedokteran yang berhubungan dengan penyakit dan bedah syaraf mata, otak serta pendengaran. Dokter Muslim yang banyak memberi kontribusi pada Ophtamology adalah lbnu Al-Haytham (965-1039 M). Selain itu, Ammar bin Ali dari Mosul juga ikut mencurahkan kontribusinya. Jasa mereka masih terasa hingga abad 19 M.
Psikoterapi Serangkaian metode berdasarkan ilmu-ilmu psikologi yang digunakan untuk mengatasi gangguan kejiwaan atau mental seseorang. Dokter Muslim yang menerapkan psikoterapi adalah Al-Razi serta Ibnu Sina.


Rabu, 02 Maret 2011

Syukur Nikmat

Pengertian syukur dan nikmat berasal dari bahasa Arab. Kata syukur berarti berterima kasih, sedangkan kata nikmat artinya Pemberian, Anugrah, Enak, Lezat. Mensyukuri nikmat Allah SWT, maksudnya berterima kasih kepada-Nya dengan cara mengingat atau menyebut nikmat dan mengagungkan-Nya.
Firman Allah SWT :
”Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya tidaklah dapat kamu
menghitungnya” (QS. Ibrahim : 34)
Karena itu, tepatlah jika Allah SWT, mewajibkan kepada setiap individu manusia untuk bersyukur kepada-Nya, Allah berfirman :

“Karena itu ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat pula kepada-Mu dan
bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku” (QS. Al-
Baqarah :152).
Manfaat besar dari rasa bersyukur
1.       Pahala dari Allah. Jelas, bersyukur adalah perintah Allah, kita akan mendapatkan pahala jika kita bersyukur dengan ikhlas.
2.     Menciptakan Feeling Good. Dengan bersyukur akan membuat kita lebih bahagia. Perasaan kita menjadi lebih enak dan nyaman dengan bersyukur.
Contoh perilaku syukur kepada Allah S.W.T.
1.    Bersyukur dengan Hati dan Perasaan
·         Menghindari perilaku buruk yang dibenci manusia dan Allah SWT
·         Selalu mengingat Allah SWT
·         Memiliki perasaan cinta kepada Allah SWT dan Rasulnya melebihi apapun juga

2.       Bersyukur dengan Mulut/ Ucapan
·         Sering dan terbiasa membaca Al-Quran dan tadarus
·         Sering berdzikir dimanapun dan kapanpun
·         Senantiasa berdoa dan memohon kepada Allah SWT
3.       Bersyukur dengan Amal Perbuatan
·         Melakukan ibadah Solat 5 waktu tepat waktu
·         Menjalani semua perintah Allah SWT dan menjauhi laranganNya
·         Tolong menolong antar sesame
4.       Bersyukur dengan Harta Benda
·         Membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan
·         Menyumbang dana untuk membiayai pembangunan sarana peribadahan
·         Mendirikan panti asuhan dan panti jompo Islam
Cara Meningkatkan Syukur
·         Untuk meningkatkan rasa bersyukur, kita harus lebih jeli dan peka terhadap berbagai nikmat yang diberikan Allah kepada kita. Kurangnya kepekaan terhadap nikmat Allah akan mengurangi syukur kita, sebab kita merasa tidak ada yang perlu disyukuri lagi. Meningkatkan kepekaan bisa dilakukan dengan melakukan perenungan terhadap apa yang terjadi pada hidup kita sehari-hari. Luangkan waktu Anda setiap hari untuk merenungkan nikmat setiap harinya.
·         Setiap saat, kita mendapatkan nikmat baru. Satu detik waktu berlalu berarti kita mendapatkan nikmat hidup selama satu detik. Nafas kita, penglihatan kita, penciuman kita, detak jantung kita dan sebagainya yang tidak mungkin disebutkan disini.
·         Selalu ada hikmah dari setiap kejadian, baik kejadian pad diri sendiri maupun orang lain. Sementara setiap saat selalu ada kejadian, berarti selalu ada hikmah yang bisa kita ambil. Sementara hikmah adalah suatu nikmat. Syukurilah.
Rahasia Syukur
·         Hati, tidak merasa memiliki dan tidak merasa dimiliki
·         Lisan, syukuri semua yang masih kita miliki
·         Berterima kasih terhadap sesame
·         Gunakan nikmat yang ada untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT